Cerita Rakyat Dari Banten – Asal Usul Gunung Pinang

Cerita Rakyat Dari Banten – Asal Usul Gunung Pinang Di Propinsi Banten, tepatnya di sekitaran lokasi Kecamatan Kramat Watu, Kabupaten Serang, ada satu gunung yang dinamakan Gunung Pinang. Konon, gunung yang satu diantara sisinya dilewati oleh jalur lintas Serang-Cilegon ini dulu datang dari perahu punya Dampu Awang yang karam. Bagaimana perahu bisa berpindah bentuk jadi satu gunung? Tersebut kisahnya.

W3lc0me to Ngancati.net

Kl1k klose (x) 2 kali untuk menutup

Terimakasih telah berkunjung 🙂
Gunung Pinang

Gunung Pinang

Cerita Rakyat Dari Banten – Asal Usul Gunung Pinang Pada jaman jaman dulu, di satu pesisir pantai kota Banten. Hiduplah seseorang janda dengan anak lelakinya. Anak lelaki itu bernama Dampu Awang. Kehidupan mereka begitu miskin dan serba kekurangan.

Tetapi, walau kehidupan mereka begitu miskin Dampu Awang mempunyai harapan yang begitu tinggi. Ia menginginkan sekali jadi seseorang saudagar kaya raya. Namun, harapan itu begitu susah untuk di raihnya. Jangankan untuk jadi saudagar kaya raya. Pekerjaan yang tetap harus ia tak miliki.

Satu hari, ada satu kapal monitor berlabuh punya seseorang saudagar kaya yang bernama Teuku Abu Matsyah. Saudagar kaya itu akn berdagang di Banten. Lihat kapal saudagar kaya itu, muncul satu hasrat untuk bekerja disana sebagai awak kapal. Ia selekasnya kembali pada tempat tinggal dan mengungkapkan hasratnya pada sang ibu.

‘ Ibu, di pelabuhan ada kapal seseorang saudagar yang begitu kaya tengah berdagang disini. Saya menginginkan sekali bekerja di kapalnya. jika saya mujur, siapa tahu saya dapat jadi saudagar kaya kelihatannya. Bu, bolehkah saya turut berlayar dengannya? Bertanya Dampu Awang.

Tetapi, ibunya segera melarang.

‘ Tak anakku! Kau tak bisa turut berlayar berbarengan sudagar kaya itu. ‘ Jawab sang ibu tegas.

‘ Kenapa bu? Lewat cara saya bekerja di kapal itu. saya bisa menolong ibu untuk penuhi kebuhuhan kita. Terlebih jika satu waktu kelak saya dapat jadi saudagar kaya. Kehidupan kita bakal beralih. ‘ Kata Dampu Awang.

‘ Tak Nak! Ibu begitu takut. jika kau telah jadi kaya kelak. Kau pastinya akan lupa dengan ibumu yang miskin ini. ‘ Kata ibunya sedih.

Tetapi, Dampu Awang selalu saja merengek supaya diperbolehkan untuk pergi berlayar. Pada akhirnya, dengan berat hati sang ibu juga mengalah. Sang ibu mengizinkan Dampu Awang untuk turut berlayar berbarengan saudagar itu. Namun, sang ibu memohon Dampu Awang untuk berjanji supaya ia senantiasa memberi berita. Sebelumnya pergi, sang ibu menitipkan Burung yang paling disayangi punya ayahnya.

‘ jaga Burung itu baik-baik Nak, dan janganlah lupa untuk memberi berita. ‘ Kata ibuya.

‘ Baik bu, saya akan tidak melupakan pesan ibu. ‘ Kata Dampu Awang.

Sang ibu juga menangis dan memeluk anaknya dengan begitu erat. Dampu Awang juga segera naik kapal dan siap untuk berlayar ke malaka.

Cerita Rakyat Dari Banten – Asal Usul Gunung Pinang Sepanjang di kapal, Dampu Awang di kenal sebagai pekerja yang begitu rajin. Ia senantiasa menggerakkan perintah majikannya dengan baik. Saudagar Teuku Abu Matsyah begitu suka lihat semangat Dampu Awang. Jabatannya selalu naik dan senantiasa memuaskan.

Satu hari, saudagar kaya itu memanggil Dampu Awang

‘ Ampun Tuanku! Ada kepentingan apa tuan memanggil aku? ‘ kata Dampu Awang.

‘ Begini Dampu Awang. Saya lihat pekerjaan mu ini begitu baik. Sepanjang kau bekerja disini, kau senantiasa tunjukkan rasa hormatmu. Saya begitu menginginkan menjodohkanmu dengan putriku. Siti Nurhasanah. Bagaimana? Apakah kau ingin menikah dengannya? ‘ tutur Teuku Abu Matsyah.

Dampu Awang begitu terperanjat mendengar apa yang disebutkan majikannya itu. ia juga begitu suka.

‘ Sudah pasti aku bersedia Tuan. ‘ Jawab Dampu Awang.

Pada akhirnya, pernikahan juga dikerjakan dengan begitu meriah. Sesudah jadi menantu saudagar kaya. Ia di yakin untuk menaruh semua harta mertuanya itu. Sesudah mereka menikah, Teuku Abu Matsyah jatuh sakit dan wafat dunia. Dampu Awanglah yang menggatikan posisi bapak mertuanya itu.

Sesudah jadi saudagar kaya. Ia melupakan ibunya. Ia tak pernah lagi memberi berita dan terlena dengan kemewahan. Satu hari, Dampu Awang dan istrinya berlayar ke lokasi pantai Banten. Tibalah mereka di daerah rumah Dampu Awang.

Semua pernduduk begitu terpukau lihat kemewahan kapal Dampu Awang. Beberapa masyarakat beramai-ramai datang ke pelabuhan untuk lihat kapal monitor yang begitu elegan itu. berita mengenai berlabuhnya kapal monitor yang elegan itu terdengar oleh sang ibu Dampu Awang. Ia begitu meyakini saudagar kaya itu yaitu anak lelakinya. Ia juga segera bergegas datang ke pelabuhan untuk berjumpa dengan Dampu Awang.

Setibanya di pelabuhan, ibu Dampu Awang lihat anaknya berdiri di tepi kapal dan kenakan pakaian yang begitu elegan. Diluar itu, sang ibu juga lihat ada seseorang wanita yang begitu cantik berdiri di sebelahnya. Sang ibu begitu suka lantaran anaknya, saat ini telah mempunyai seseorang istri. Ia segera lari ke arah kapal mendekati anaknya itu. Ia lari dengan cepat dan berteriak memanggil nama anaknya.

‘ Dampu Awang anakku, kau telah kembali Nak, ibu begitu merindukanmu. ‘ Kata sang ibu menangis bahagia.

Cerita Rakyat Dari Banten – Asal Usul Gunung Pinang Dampu Awang begitu terperanjat lihat seseorang perempuan tua yang bajunya compang-camping dan begitu dekil sekali. Ia begitu mengetahui muka perempuan yang memanggil-manggil namanya itu. Ia paham kalau perempuan itu yaitu ibunya. Tetapi, ia begitu malu mengaku perempuan yang seperti pengemis itu ibunya.

‘ Kang, apakah perempuan tua itu yaitu ibumu? Kenapa sampai kini kau tak pernah bercerita jika masihlah memiliki seseorang ibu? ‘ Bertanya istrinya heran.

‘ Bukanlah sayang! Perempuan tua itu bukanlah ibuku. Ibuku telah lama wafat. Ia cuma seseorang perempuan yang hilang ingatan. Telah abaikan saja perkataannya itu. Sungguh tak utama! ‘ kata Dampu Awang.

Sang ibu terus-menerus memanggil namanya.

Baca Juga :

‘ Hei, perempuan tua! Diamlah! Kau bukanlah ibuku. Saya telah tak mempunyai ibu. Ibuku telah lama wafat! ‘ kata Dampu Awang begitu jengkel.

Sang ibu begitu terperanjat mendengar apa yang disebutkan anak lelakinya itu. Saat ini ketakutannya jadi fakta. Hatinya seperti teriris-iris. Saat ini, anak kandungnya sendiri tak mengakuinya sebagai ibunya. Air matanya juga membasahi pipinya. Tanpa ada sadar ia berdoa.

‘ Ya Tuhan, apakah saya salah? jika dia bukanlah anakku Dampu Awang, biarlah dia pergi. Namun, jika dia anakku. Tolong berikanlah hukuman yang setimpal padanya! ‘ doa sang ibu.

Selang beberapa saat, bumi saat itu juga bergetar. Langit bergemuruh. Petir juga menyambar begitu dasyat. Langitpun beralih jadi begitu gelap. Mendadak, terjadi badai. Kapal monitor Dampu Awang yang sagat elegan itu terombang-ambing di lautan. Semua berisi porak-polanda. Dampu Awang dan istrinya begitu cemas dan bingung

Mendadak, Burung peliharaan Dampu Awang bicara.

‘ Dampu Awang,Akuilah perempuan itu sebagai ibumu. Cepatlah akui dia, ‘ kata sang Burung.

‘ Tak, ibuku telah lama mati. ‘ Teriak Dampu Awang.

Saat itu juga, kapal monitor Dampu Awang mendadak terangkat ke hawa dan terlempar ke samping selatan dan semua berisi. Kapal itu tertelungkup dan membuat satu gunung. Dampu Awang dan istrinya tidak bisa menyelamatkan diri. Kemudian lautan kembali seperti awal mulanya dan seakan tak berlangsung apa-apa.

Gunung itu dikenal dengan nama Gunung Pinang. dan sampai saat ini, gunung itu masihlah ada dan letaknya diantara kota Serang dan Cilegon.

Incoming search terms:

  • ringasan asal usul gunung pinang
  • unsur intrinsik gunung pinang
  • unsur intrinsik dan ekstrinsik cerita nenek pakande
  • doeload cerita rakyat joko kendil pdf
  • unsur intrinsik dan ekstrinsik dalm cerita gunung pinang
Cerita Rakyat Dari Banten – Asal Usul Gunung Pinang | soni | 4.5
/* */
Selamat Datang di NGANCATI.NET

Kl1k Tanda(x) 2 Kali Untuk Tutup

Terimakasih Telah Berkunjung:*