Dongeng Mitos Bahasa Sunda – Larangan Menikah Orang Jawa & Sunda

Dongeng Mitos Bahasa Sunda – Larangan Menikah Orang Jawa & Sunda – Mungkin dari anda ada yang bertanya-tanya kenapa hal ini diangap sebagai mitos bagi sebagian masyarakat jawa dan sunda, lebih tepatnya masyarakat yang keseharian menggunakan bahasa sunda dan masyarakat yang identik dengan bahasa jawa. Jika anda penasaran silahkan simak cerita berikut ini..oiya sebelum melanjutkan membaca dalam cerita ini kami menyediakan dalam dua versi bahasa , Untuk anda yang menginginkan membaca dalam bahasa sunda bisa langsung saja scroll ke bawah… selamat membaca….

W3lc0me to Ngancati.net

Kl1k klose (x) 2 kali untuk menutup

Terimakasih telah berkunjung 🙂

Dongeng Mitos Dalam Bahasa Indonesia – Larangan Menikah Orang Jawa & Sunda

Larangan Menikah Orang Jawa & Sunda Sempatkah kamu mendengar kalau orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau demikian sebaliknya? Nyatanya hal semacam itu sampai ini masihlah diakui oleh beberapa orang-orang kita. Lantas apa penyebabnya? Mitos itu sampai saat ini masihlah dipegang teguh sebagian gelintir orang. Tak bahagia, miskin, tak abadi dan hal yg tidak baik akan menerpa orang yang tidak mematuhi mitos itu. Lantas kenapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tak ada literatur yang menuliskan mengenai asal muasal mitos larang perkawinan itu. Tetapi mitos itu disangka akibatnya karena tragedi perang Bubat. Momen Perang Bubat dimulai dari kemauan Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda.

Konon ketertarikan Hayam Wuruk pada putri itu lantaran mengedarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis dengan cara diam-diam oleh seseorang seniman pada saat itu, bernama Sungging Prabangkara. Hayam Wuruk memanglah punya niat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong argumen politik, yakni untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk kirim surat kehormatan pada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan gagasannya akan dilangsungkan di Majapahit.

dongeng bahasa sunda

Maharaja Linggabuana lalu pergi berbarengan rombongan Sunda ke Majapahit dan di terima dan diletakkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat bersama permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Menurut Kidung Sundayana, muncul kemauan Mahapatih Gajah Mada untuk kuasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin penuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada saat sebelumnya Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari beragam kerajaan di Nusantara yang telah dikalahkan Majapahit, cuma kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud itu, Gajah Mada membuat argumen oleh untuk berasumsi kalau kehadiran rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat yaitu bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda pada Majapahit. Gajah Mada menekan Hayam Wuruk untuk terima Dyah Pitaloka bukanlah sebagai pengantin, namun sebagai sinyal takluk Negeri Sunda dan pernyataan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri dijelaskan bimbang atas persoalan itu, mengingat Gajah Mada yaitu Mahapatih yang dihandalkan Majapahit ketika itu.

Versus lain menyebutkan kalau Raja Hayam Wuruk nyatanya mulai sejak kecil telah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Hingga Hayam Wuruk mesti menikah dengan Hindu Dewi sedang Dyah Pitaloka cuma dikira sinyal takluk. ” Masalah pernikahan itu, teori aku mengenai Gajah Mada, Gajah Mada tak bersalah. Gajah Mada cuma melakukan titah sang raja. Gajah Mada akan menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Menginginkan sekali untuk menjadikan satu pada Raja Sunda dan Raja Jawa lalu berhimpun. Indah sekali, ” tegas sejarawan sekalian arkeolog Kampus Indonesia (UI) Agus Aris Munandar.

Hal semacam ini dia berikan dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertopik ; ‘Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah’ di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Selasa (30/10).Pihak Pajajaran tak terima apabila kehadirannya ke Majapahit cuma menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Lalu terjadi insiden perselisihan pada utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini disudahi dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terperanjat kalau kehadiran mereka cuma untuk memberi sinyal takluk dan mengaku superioritas Majapahit, bukanlah lantaran undangan terlebih dulu. Tetapi Gajah Mada tetaplah dalam posisi awal mulanya.

Belum lagi Hayam Wuruk memberi putusannya, Gajah Mada telah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan meneror Linggabuana untuk mengaku superioritas Majapahit. Untuk menjaga kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menampik desakan itu. Terjadi peperangan yg tidak seimbang pada Gajah Mada dengan pasukannya yang sejumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang sejumlah kecil dan beberapa petinggi dan menteri kerajaan yang turut dalam kunjungan itu. Momen itu selesai dengan gugurnya Raja Linggabuana, beberapa menteri, petinggi kerajaan bersama seluruh keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.

Kebiasaan mengatakan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka lakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata tingkah laku dan nilai-nilai kasta ksatria, aksi bunuh diri ritual dikerjakan oleh beberapa perempuan kasta itu bila golongan lelakinya sudah gugur. Perbuatan itu diinginkan bisa membela harga diri sekalian membuat perlindungan kesucian mereka, yakni hadapi peluang dipermalukan lantaran pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak. Hayam Wuruk juga lalu meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat momen Bubat ini, kalau jalinan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada jadi renggang. Gajah Mada sendiri hadapi mengenaian, keraguan, dan kecaman dari pihak petinggi dan bangsawan Majapahit, lantaran perbuatannya dikira asal-asalan dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dikira sangat berani dan lancang dengan tak menghiraukan hasrat dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

Dongeng Mitos Bahasa Sunda Indonesia – Tragedi perang Bubat juga mengakibatkan kerusakan jalinan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan selalu berjalan sampai bertahun-tahun lalu. Jalinan Sunda-Majapahit tak pernah sembuh seperti yang lalu. Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetaplah tinggal di istana Kawali dan tak turut ke Majapahit menemani keluarganya lantaran waktu itu masihlah sangat kecil dan jadi hanya satu keturunan Raja yang masihlah hidup dan lalu akan naik takhta jadi Prabu Niskalawastu Kancana.

Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana diantaranya mengambil keputusan jalinan diplomatik dengan Majapahit dan mengaplikasikan isolasi terbatas dalam jalinan kenegaraan antar ke-2 kerajaan. Akibat momen ini juga, di kelompok kerabat Negeri Sunda diberlakukan ketentuan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang berisi salah satunya tak bisa menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau beberapa lagi menyampaikan tak bisa menikah dengan pihak Majapahit. Ketentuan ini lalu ditafsirkan lebih luas sebagai larangan untuk orang Sunda untuk menikah dengan orang Jawa. Aksi keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk bertindak bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dikira sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki ‘Prabu Wangi’ (bhs Sunda : raja yang harum namanya) lantaran kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda lalu dijuluki Siliwangi yang datang dari kata Silih Wangi yang bermakna pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Sebagian reaksi itu mencerminkan kekecewaan dan kemarahan orang-orang Sunda pada Majapahit, satu sentimen yang lalu berkembang jadi sejenis rasa persaingan dan permusuhan pada suku Sunda dan Jawa yang dalam banyak hal masihlah tersisa sampai saat ini. Diantaranya, tak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekalian pusat budaya Sunda, tak diketemukan jalan bernama ‘Gajah Mada’ atau ‘Majapahit’. Walau Gajah Mada dikira sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, umumnya rakyat Sunda menganggapnya tak layak akibat perbuatannya yang dikira tak terpuji dalam tragedi ini.

Baca Juga :

Dongeng Sunda : Kisah Legenda Pangeran Pande Gelang

Dongeng Cerita Rakyat Jawa Tengah – Legenda RAWA PENING

Dongeng Mitos Dalam Bahasa Sunda – Larangan Menikah Orang Jawa & Sunda

Dongeng Mitos Nalika Sunda Indonesia – Kawit Mimiti Larangan Nikah Sunda sarta Jawa – Sempatkah anjeun ngadenge lamun jalmi Sunda dilarang nikah kalawan jalmi Jawa atawa kitu sawangsulna? Tela na perkawis sarupaning eta dugi ieu masihlah diaku ku sababaraha jalmi-jalmi urang. Saterusna naon cukang lantaran na? Mitos eta dugi ayeuna masihlah dicepeng teguh sapalih gelintir jalmi. Tak bingah,miskin,tak langgeng sarta perkawis anu henteu sae bade numiba jalmi anu henteu ngestokeun mitos eta. Saterusna naha jalmi Sunda sarta Jawa dilarang nikah sarta ngabina laki-rabi. Tak aya pustaka anu nuliskeun ngeunaan kawit muasal mitos cegah perkawinan eta. Nanging mitos eta disangka balukarna margi tragedi perang Bubat.

Momen Perang Bubat dimulai ti kapalay Prabu Hayam Wuruk anu hoyong memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi ti Nagari Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk dina putri eta lantaran mengedarnya lukisan sang putri di Majapahit,anu dilukis ku cara cicing-cicing ku hiji jalma seniman dina wanci eta,namina Sungging Prabangkara. Hayam Wuruk memanglah gaduh niat memperistri Dyah Pitaloka kalawan disurungkeun argumen pulitik,nyaeta kanggo ngabeungkeut persekutuan kalawan Nagari Sunda. Luhur restu ti kulawargi karajaan Majapahit,Hayam Wuruk kintun serat cahara dina Maharaja Linggabuana kanggo lamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan alpukah na bade dilangsungkeun di Majapahit.

Maharaja Linggabuana kaliwat mios babarengan rombongan Sunda ka Majapahit sarta di tampi sarta ditendeun di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda dongkap ka Bubat sareng permaisuri sarta putri Dyah Pitaloka kalawan dipirig sakedik soldadu. Nurutkeun Kidung Sundayana,wedal kapalay Mahapatih Gajah Mada kanggo kuasai Karajaan Sunda. Gajah Mada hoyong penuhi Sumpah Palapa anu didamel na dina wanci kawitna Hayam Wuruk tumpak tahta,margi ti rupa-rupa karajaan di Nusantara anu atos dielehkeun Majapahit,mung karajaan Sunda lah anu tacan dikawasa.

Kalawan maksad eta,Gajah Mada midamel argumen ku kanggo berasumsi lamun kehadiran rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat yaktos wangun seserahan diri Karajaan Sunda dina Majapahit. Gajah Mada menekeun Hayam Wuruk kanggo tampi Dyah Pitaloka lain minangka pengantin,nanging minangka sinyal taluk Nagari Sunda sarta parnyataan superioritas Majapahit luhur Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sorangan dijelaskeun bimbang luhur masalah eta,ngemut Gajah Mada yaktos Mahapatih anu dihandalkeun Majapahit sabot eta. Versus sanes nyebutkeun lamun Raja Hayam Wuruk tela na mimiti saprak alit atos dijodohkeun kalawan adi misan na Putri Sekartaji atawa Hindu Batari. Dugi Hayam Wuruk kedah nikah kalawan Hindu Batari kanggo Dyah Pitaloka mung dikira sinyal taluk.

“Masalah pernikahan eta,teori abdi ngeunaan Gajah Mada,Gajah Mada tak boga salah. Gajah Mada mung ngalakukeun titah sang raja. Gajah Mada bade menjodohkeun Hayam Wuruk kalawan Diah Pitaloka. Gajah mada Hayangeun kalintang kanggo ngajadikeun hiji dina Raja Sunda sarta Raja Jawa kaliwat ngumpul. Endah kalintang, ” teges sejarawan sakantenan arkeolog Kampus Indonesia (UI) Agus Aris Munandar. Perkawis sarupaning ieu anjeunna bikeun dina seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertopik ; ‘ Kontroversi Gajah Mada Dina Perspektif Fiksi sarta Sajarah ‘ di Manohara Hotel,Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Salasa (30/10).

Pihak Pajajaran tak tampi lamun datangna ka Majapahit mung mikeun Dyah Pitaloka minangka taklukan. Kaliwat lumangsung insiden perselisihan dina utusan Linggabuana kalawan Gajah Mada. Perselisihan ieu disudahi kalawan dimaki-nyawad na Gajah Mada ku utusan Nagari Sunda anu terperanjat lamun kehadiran maranehanana mung kanggo masihan sinyal taluk sarta angken superioritas Majapahit,lain lantaran ondangan leuwih tiheula. Nanging Gajah Mada angger dina posisi mimiti mimiti na. Tacan deui Hayam Wuruk masihan putusan na,Gajah Mada atos ngaluarkeun pasukan Bhayangkara ka Pesanggrahan Bubat sarta meneror Linggabuana kanggo angken superioritas Majapahit. Kanggo ngajagi cahara minangka ksatria Sunda,Linggabuana menampik desakan eta.

Lumangsung peperangan anu henteu saimbang dina Gajah Mada kalawan pasukan na anu sajumlah ageung,ngalawan Linggabuana kalawan pasukan ponggawa karajaan (Balamati) anu sajumlah alit sarta sababaraha petinggi sarta menteri karajaan anu turut dina datangna eta. Momen eta rengse kalawan gugur na Raja Linggabuana,sababaraha menteri,petinggi karajaan sareng sakumna kulawargi karajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat. Kabiasaan ngomong sang Putri Dyah Pitaloka kalawan hate berduka pigawe bela pati atawa maehan maneh kanggo membela cahara bangsa sarta nagarana. Nurutkeun tata tingkah pajeng sarta peunteun-peunteun kasta ksatria,aksi maehan maneh ritual dipigawe ku sababaraha awewe kasta eta lamun golongan laalaki na atos gugur. Gawena eta dipikahayang tiasa membela pangaos diri sakantenan midamel panangtayungan kesucian maranehanana,nyaeta sanghareupan kasempetan dipermalukeun lantaran pemerkosaan,penganiayaan,atawa diperbudak.

dongeng bahasa sunda

Hayam Wuruk oge kaliwat meratapi tiwasna Dyah Pitaloka. Alatan momen Bubat ieu,lamun jalinan Hayam Wuruk kalawan Gajah Mada janten renggang. Gajah Mada sorangan sanghareupan mengenaian,kamangmang,sarta kecaman ti pihak petinggi sarta bangsawan Majapahit,lantaran gawena na dikira kawit-asalan sarta lalawora. Mahapatih Gajah Mada dikira wantun pisan sarta lancang kalawan tak menghiraukeun kapalay sarta rarasaan sang Makuta,Raja Hayam Wuruk sorangan.

Dongeng Mitos Bahasa Sunda Indonesia Lengkap – Tragedi perang Bubat oge ngabalukarkeun karuksakan jalinan kanagaraan anteur Majapahit sarta Pajajaran atawa Sunda sarta sok mapan dugi bertahun-taun ka tukang. Jalinan Sunda-Majapahit tak kantos damang sepertos anu kaliwat. Pangeran Niskalawastu Kancana,adi Putri Dyah Pitaloka anu angger cicing di karaton Kawali sarta tak turut ka Majapahit maturan kulawargana lantaran wanci eta masihlah alit pisan sarta janten ngan hiji turunan Raja anu masihlah hirup sarta kaliwat bade tumpak takhta janten Prabu Niskalawastu Kancana. Kawijakan Prabu Niskalawastu Kancana diantarana nyokot kaputusan jalinan diplomatik kalawan Majapahit sarta mengaplikasikeun isolasi kawates dina jalinan kanagaraan anteur ka-2 karajaan. Alatan momen ieu oge,di jumplukan wargi Nagari Sunda dilumangsungkeun katangtuan larangan estri ti luaran (rarabi ti jabi),anu eusina salah sahijina tak tiasa nikah ti jabi lingkungan wargi Sunda,atawa sababaraha deui nepikeun tak tiasa nikah kalawan pihak Majapahit. Katangtuan ieu kaliwat ditapsirkeun langkung lega minangka larangan kanggo jalmi Sunda kanggo nikah kalawan jalmi Jawa.

Aksi keberanian sarta keperwiraan Raja Sunda sarta putri Dyah Pitaloka kanggo bertindak bela pati (wantun nilar) dipihormat sarta dimegahkeun ku rahayat Sunda sarta dikira minangka teladan. Raja Lingga Buana katelahna ‘ Prabu Seungit ‘ (bhs Sunda : raja anu seungit ngaranna) lantaran kepahlawanannya membela pangaos diri nagarana. Turunan na,raja-raja Sunda kaliwat katelahna Siliwangi anu dongkap ti sanggem Silih Seungit anu bermakna gentosna,pewaris atawa penerus Prabu Seungit. Sapalih reaksi eta mencerminkeun kakuciwa sarta kaambek jalmi-jalmi Sunda dina Majapahit,hiji sentimen anu kaliwat ngembang janten sarupa rasa persaingan sarta permusuhan dina suku Sunda sarta Jawa anu jero seueur perkawis masihlah cangkaruk dugi ayeuna.di antarana,tak sepertos dayeuh-dayeuh sanes di Indonesia,di dayeuh Bandung,puseur dayeuh Jawa Kulon sakantenan pusat budaya Sunda,tak dipapanggihkeun jalan namina ‘ Gajah Mada ‘ atawa ‘ Majapahit ‘ . Cacak Gajah Mada dikira minangka inohong pahlawan nasional Indonesia,umumna rahayat Sunda nganggap hal eta tak meujeuhna alatan gawena na anu dikira tak terpuji dina tragedi ieu.

Itulah Cerita Dongeng Mitos Bahasa Sunda – Larangan Menikah Orang Jawa & Sunda yang kami kutip dari beberapa sumber terpecaya , semoga dapat menambah bacaan anda dan jangan lupa untuk membaca artikel cerita menarik lainnya di website kami .. terimakasih ngancati.net

Incoming search terms:

  • contoh carpon sunda budak sakola
  • contoh carita babad
  • carpon sunda singkat pisan
  • cerita menggunakan aksara jawa beserta artinya
  • dongeng sunda pendek
Dongeng Mitos Bahasa Sunda – Larangan Menikah Orang Jawa & Sunda | soni | 4.5
/* */
Selamat Datang di NGANCATI.NET

Kl1k Tanda(x) 2 Kali Untuk Tutup

Terimakasih Telah Berkunjung:*